UIN Walisongo, Membangun Kembali Budaya dan Sejarah

 

UIN2Oleh: Purwowidodo[1]

Kompleksitas problematika yang lahir dari dampak menjamurnya dikotomi keilmuan agama dan sains tak ayal menimbulkan keperihatinan mendalam dari berbagai kalangan ilmuwan. Kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) dengan varian paradigma, metafora, serta strategi implementasi sedikit memberi angin segar adanya upaya untuk mengeliminasi keilmuan yang cenderung bercorak dikotomik.

Amin Abdullah, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dalam acara seminar tentang “Islam, Science, and Civilization, Prospect and Challenge for Humanity” yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo bekerjasama dengan Universitas Teknologi Malaysia pada Rabu, (19/11) di Hotel Pandanaran, mengatakan, agama dan ilmu pengetahuan (sains-red) selama ini memang terkesan tidak berdialog dan saling meninggalkan satu sama lain.

Diakui atau tidak, hingga saat ini hubungan antara agama dan sains masih ibarat dua jalur yang antara satu sama lain belum menemukan titik perjumpaan. Keterpisahan (dikotomi-red) antara dua disiplin itu pada akhirnya menelurkan suatu justifikasi yang sempit di tengah masyarakat, bahwa keduanya memang tidak pernah dan tidak akan bertemu sampai kapanpun. Hal ini tak ayal memiliki implikasi yang cukup buruk bagi eksistensi perguruan tinggi islam. Sehingga nampak sekali dijumpai pada lembaga pendidikan islam terkesan masih menampilkan diri sebagai perguruan tinggi yang kolot, tertinggal dari peradaban modern, lamban dalam merespons kemajuan, kurang kompetitif, kurang dinamis, dan tidak mampu menarik perhatian kalangan yang lebih luas. Tidak heran, kini agama nampak jauh tertinggal dibandingkan dengan pesatnya kemajuan sains. “Tidak bisa dipungkiri bahwa keilmuan agama memang belum bisa berkembang dengan baik. Namun, jika dibiarkan agama akan sangat tertinggal. Semisal 20 (agama-red) banding 80 (sains-red), maka sangatlah bahaya sekali,” tutur Amin Abdullah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga.

Berangkat dari kegelisahan itulah, maka upaya reintegrasi antara dua kubu keilmuan merupakan suatu keniscayaan. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi www.uinsby.ac.id, Nur Syam, mantan Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya mengatakan, transformasi IAIN ke UIN merupakan keharusan sejarah, sebab pengaruhnya besar sekali bagi masyarakat. Dengan nada yang sama, Amin, sapaan akrabnya menambahkan, bangunan ilmu pengetahuan yang dikotomik antara sains dan ilmu agama harus diubah menjadi bangunan keilmuan baru yang lebih holistik-integralistik.

Hadirnya upaya perubahan beberapa perguruan tinggi agama islam untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum menandakan sebuah proses kesadaran yang lebih maju. Di mana selama ini IAIN memang masih dianggap sebagai kampus yang hanya memproduksi guru-guru agama atau calon-calon ustad. Akhirnya ada stigma bahwa alumni atau lulusan dari IAIN merupakan ustad atau guru agama. Sehingga dalam dekade terakhir ini adanya transformasi IAIN menjadi UIN merupakan bagian dari usaha menginterasikan beragam keilmuan untuk mengeliminasi dikotomi antara sains dan ilmu agama. Dalam hal ini, Imam Suprayogo, mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang memberikan kritikan, selama ini perguruan tinggi dengan label islam masih terkesan hanya melahirkan para sarjana yang berkutat dalam ranah kemodinan semata (Modin adalah sebutan untuk pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan bertalian dengan agama islam). Oleh karenanya, lanjut Imam, sapaan akrabnya, STAIN atau IAIN harus dirubah menjadi UIN. “Hal ini sebagai upaya agar tidak memberikan kesan bahwa islam itu hanya modin. Kasihan, islam akan terkesan hanya menyiapkan tenaga-tenaga kemodinan saja, maka islam akan terbelakang,” ujar Imam, Guru Besar UIN Maliki.

Dalam kesempatan yang berbeda, Amin, mantan Wakil Direktur Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Kalijaga menjelaskan, dalam catatan perjalanan antara tahun 1980 sampai 2000 dapat dilihat kemajuan ilmu nampak terus berkembang sebegitu pesatnya. Di sisi lain, mulai terasa bahwa keilmuan agama belum bisa berkembang dengan baik. Dia, lanjut Amin, masih dalam corak yang lama. “Inilah tantangan terus-menerus yang harus dipikirkan, kalau tidak dia pasti punya implikasi dalam kehidupan sosial, kehidupan politik, dan kehidupan masyarakat pada umumnya,” tandas Amin, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Komisi Kebudayaan.

Kesadaran itulah yang akhirnya memunculkan perlu adanya upaya secara serius untuk mengintegrasikan keilmuan agama dan sains. Amin mencontohkan, semisal kajian fiqh sekarang tidak hanya dipelajari fiqh yang ada secara umumnya, tapi harus coba diintegrasian dengan sosiologi. Permisalan lain dalam kajian aqidah, bagaimana pemahaman-pemahaman aqidah harus ada nuansa-nuansa sosial, budaya, dan sains. “Nuansa itu harus terintegrasi, karena tanpa hal itu, kita akan terbelakang terus dengan perkembangan nasional,” tegas Amin, mantan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga.

Abuddin Nata, Guru Besar Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagaimana dilansir dari situs resmi www.uinjkt.ac.id mengatakan, perubahan IAIN menjadi UIN selain karena adanya keinginan untuk memberikan peluang yang lebih besar kepada para lulusan UIN untuk berkiprah di tengah masyarakat, juga karena ingin menghilangkan paradigama dikotomi ilmu yang diwariskan abad pertengahan.

Nampaknya upaya untuk benar-benar mengeliminasi dikotomi keilmuan bukan hanya sekadar wacana dan benar-benar mendapat sambutan yang positif dari berbagai elemen. Hal ini terbukti di penghujung akhir tahun 2014 lalu, tepatnya pada Jum’at (19/12), Presiden Joko Widodo telah meresmikan transformasi tiga IAIN, yaitu IAIN Raden Fatah Palembang, IAIN Sumatera Utara, dan IAIN Walisongo Semarang. Di Semarang sendiri, pasca IAIN Walisongo resmi bertransformasi menjadi UIN Walisongo, maka kampus tersebut akan dihadapkan pada tantangan baru untuk bagaimana menyelaraskan landasan filosofis bagi fakultas dan jurusan yang berada di bawah naungannya. Tantangan baru ini dapat dianggap sebagai kelanjutan dari masalah dualisme pendidikan dan dikotomi ilmu yang telah berlangsung selama ini. Dalam hal ini UIN Walisongo ditantang untuk mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu agama islam dan ilmu-ilmu umum serta sains modern dalam tataran filosofis maupun praktis.

Rambu Integrasi

UIN Maulana Malik Ibrahim hadir dengan paradigma integrasi ilmu dalam islam dan pohon ilmu sebagai metafora yang menggambarkan pola integrasi kampus tersebut. Sedangkan UIN Sunan Kalijaga menghadirkan paradigma integrasi-interkoneksi dengan metafora yang tervisualisasi dalam bentuk spider web (jaring laba-laba). Berbeda dengan kedua UIN tersebut, transformasi UIN Walisongo hadir dengan menggagas paradigma integrasi unity of science (wahdatul ‘ulum). Paradigma ini secara apik tervisualisasi dalam metafora diamond (intan-berlian). Sholihan, yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua LP2M UIN Walisongo dalam acara Stadium General Faukultas Dakwah dan Komunikasi pada tanggal 3 Maret 2014 lalu menyampaikan, UIN Walisongo dalam merumuskan blue print pengembangan akademik telah melewati waktu yang sangat panjang. Awalnya, lanjut Sholihan, konsep integrasi tersebut bermula dari gagasan Abdul Muhayya, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin. Kemudian konsep tersebut mendapatkan banyak masukan dari berbagai pihak. “Akhirnya disepakati, pengembangan keilmuan di UIN Walisongo didasarkan pada paradigma unity of science (wahdatul ‘ulum) dengan metafora diamond (intan-berlian),” tutur Sholihan, mantan Wakil Rektor bidang kerja sama UIN Walisongo.

Secara umum, meskipun memiliki model dan pola integrasi berbeda, kesemua UIN ingin mewujudkan rancang bangun keilmuan integratif yang mampu menjabarkan nilai-nilai islam secara universal. Dalam aspek ontologi, berbagai model integrasi di UIN tersebut menjadikan alqur’an dan hadits sebagai landasan dan pondasi bagi kajian-kajian dan pengembangan keilmuan.

Amin Abdullah saat ditemui oleh crew LPM Edukasi di kediamannya yang berlokasi di Cupuwatu, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta menjelaskan, setidaknya ada tiga rambu yang menandai hubungan antara ilmu dan agama bercorak dialogis dan integratif. Tiga rambu tersebut yaitu, lanjut Amin, semipermeable, intersubjective testability, dan creative imagination.

Menurut Amin, semipermeabel jika digambarkan bisa berupa pori-pori dalam membran sel. Lebih jelas lagi, pori-pori tersebut ibarat lobang angin pada dinding (ventilasi) yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi keluar-masuknya udara dan saling tukar informasi antar berbagai disiplin keilmuan. Masing-masing disiplin ilmu masih tetap dapat menjaga identitas dan eksistensinya sendiri-sendiri, tetapi selalu terbuka ruang untuk berdialog, berkomunikasi, dan berdiskusi dengan disiplin ilmu lain.

Indikator kedua yakni adanya Intersubjective testability (keterujian intersubjektif). Kata Amin, keterujian intersubjetif muncul ketika semua komunitas keilmuan ikut bersama-sama berpartisipasi menguji tingkat kebenaran penafsiran dan pemaknaan data yang diperoleh peneliti dan ilmuwan dari lapangan. Karena kehidupan, lanjut Amin, begitu sangat kompleks untuk dapat diselesaikan dan dipecahkan hanya dengan satu bidang disiplin ilmu. Kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu sangat diperlukan untuk memecahkan berbagai macam kompleksitas kehidupan. Masukan dan kritik dari berbagai disiplin (multidicipline) dan lintas disiplin ilmu (transdicipline) menjadi sangat dinantikan untuk dapat memahami kompleksitas kehidupan dengan lebih baik.

Sedangkan parameter ketiga bahwa ilmu telah dikatakan integratif yaitu adanya creative imagination (imaginasi kreatif). Lebih lanjut Amin menjelaskan, creative imagination ini seringkali dikaitkan dengan upaya untuk memperjumpakan dua konsep framework yang berbeda. Ia mensintesakan dua hal yang berbeda dan kemudian membentuk keutuhan baru, menyusun kembali unsur-unsur yang lama ke dalam adonan konfigurasi yang fresh. Bahkan, kata Amin, seringkali teori baru muncul dari upaya yang sungguh-sungguh untuk menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali. Amin mencontohkan, misalnya Newton menghubungkan dua fakta yang sama-sama dikenal secara luas, yaitu jatuhnya buah apel dan gerak edar atau rotasi bulan.

Ketiga rambu tersebut penting untuk dijadikan sebagai parameter apakah antara ilmu agama dan sains telah benar-benar memiliki corak integratif atau belum. “Berhasil tidaknya implementasi integrasi mengacu pada tiga kata kunci di atas. Jika memang belum, maka belum dikatakan berhasil,” tegas Amin, yang pernah mendapatkan penghargaan the most dedicated rector of the state islamic university in developing and transforming the islamic higher education dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Inovasi Akademik

Perjuangan dalam melahirkan paradigma integrasi ilmu tentunya merupakan salah satu langkah kemajuan untuk menghasilkan suatu inovasi akademik. Belajar dari apa yang telah dibangun oleh UIN Maliki selama hampir satu dekade. Dalam tataran praktis, integrasi yang dibangun UIN Maliki berpedoman pada strategi arkanul jami’ah (rukun universitas) yang terdiri dari sembilan pilar. Menurut Imam, sembilan pilar tersebut terdiri dari tenaga pengajar atau dosen, masjid, ma’had, perpustakaan, laboratorium, tempat-tempat pertemuan ilmiah, tempat pelayanan administrasi kampus, pusat pengembangan seni dan olah raga, dan pemikiran yang diekspresikan pada berbagai media cetak yang telah disiapkan di dalam maupun di luar kampus.

Diantara kesembilan pilar yang ada, pada aspek ma’had kebijakan yang ditempuh ialah mewajibkan seluruh mahasiswa baru bertempat tinggal di Ma’had al-Aly Sunan Ampel. “Wajib bagi seluruh mahasiswa apapun jurusannya,” tegas Imam, yang pernah mendapatkan penghargaan Rekor Muri atas konsistensinya menulis di blog selama tiga tahun tanpa jeda.

Bagi Imam, posisi ma’had di dalam kampus memiliki peran yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pasalnya, ia sangat mempercayai statement dari sosok Mukti Ali, Menteri Agama di Kabinet Pembangunan II era Presiden Soeharto. Katanya, dengan menirukan ungkapan dari Mukti Ali, tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain dari pesantren. Hingga pada saat itu, selain mengusulkan alih status dari STAIN ke UIN, di dalamnya Imam juga mengusulkan agar dibangun pesantren untuk para mahasiswa. “Sehingga ulama tumbuh karena di dalam UIN itu ada pesantren. Intelektual juga tumbuh karena di situ ada universitas. Maka akan lahirlah generasi intelektual yang ulama dan ulama yang intelektual,” tutur Imam, yang pernah meraih gelar doktornya pada tahun 1998 dari Universitas Airlangga, Surabaya dalam bidang sosiologi.

Senada dengan apa yang dikatakan Imam, Abuddin Nata, Doktor lulusan McGill University, Montreal, Kanada, sebagaimana ditulis dalam situs resmi www.uinjkt.ac.id mengatakan, saat ini masyarakat menginginkan lahirnya ulama yang bercorak intelek. Seseorang yang mendalami ilmu agamanya, tapi juga memiliki ilmu-ilmu umum sebagai pisau analisisnya yang memungkinkan ajaran islam mampu memberikan respon terhadap problema masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya.

Lebih lanjut di tataran praktis, ma’had tersebut selain dijadikan sebagai wadah untuk mendukung pengembangan aspek-aspek kultural seperti kebiasaan shalat berjamaah, membaca alqur’an, shalat malam, kajian pemikiran islam juga difokuskan untuk menciptakan iklim atau suasana yang mendukung kemampuan berbahasa asing (arab dan inggris-red). Dalam mendukung implementasi konsep integrasi agama dan sains tersebut, UIN Maliki mempersyaratkan mahasiswanya untuk menguasai dua bahasa asing tersebut. Dalam kurikulum UIN Malang, sebagaimana tervisual pada “Pohon Ilmu”, bahasa arab dan bahasa inggris diposisikan sebagai alat atau instrumen untuk melakukan kajian sumber ajaran islam dan juga disiplin ilmu pilihan masing-masing.

Atas dasar konsistensi pada strategi arkanul jami’ah tersebut, pasca alih status dari STAIN, kini UIN Maliki telah menunjukan perubahan yang begitu pesat. Bahkan bersama dengan UIN Jakarta, UIN Maliki telah diproyesikan untuk menuju word class university. Imam menceritakan, dulu kampus tersebut hanya didatangi oleh mahasiswa yang berasal dari Malang, Blitar, dan Kediri. Tapi sekarang, sudah tercatat mahasiswa datang dari Aceh sampai Papua. Bahkan, lanjut Imam, sekarang sudah tercatat ada 30 negara yang kuliah di UIN Maliki, diantaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Timur Leste, Turki, Maroko, Syiria, Afganistan, Kanada, China, Australia, Jepang, Kamboja, Papua Nugini, Madagaskar, Yaman, Sudan, Libya, Rusia, Slowakia, Ukraina, Bulgaria, Bosnia, Tajikistan, Saudi Arabia, Amerika Serikat, Australia, Tanzania, dan juga Vatikan. “Kalau jadi universitas cakupannya luas, kemudian peminatnya juga akan semakin lebih luas,” ujar Imam, yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 1983 hingga 1996.

Bagi Imam, profesor yang ahli dalam pengembangan pendidikan islam, secara sederhana tolak ukur berhasilnya implementasi konsepsi integrasi dapat ditilik pada sudah dijumpainya setiap wisuda tidak kurang dari 50 mahasiswa yang telah berhasil menghafalkan alqur’an dari berbagai macam disiplin ilmu. Selain itu, juga sudah banyak mahasiswa yang menulis skripsi dalam tiga bahasa. Bahkan ada mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora telah berhasil menulis skripsi dengan sembilan bahasa, yaitu Korea, Mandarin, Jepang, Arab, Rusia, Inggris, Jawa, Indonesia, dan Bahasa Daerah.

Tantangan

Integrasi ilmu agama dan sains sangat diperlukan, apa lagi di zaman modern yang ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Hal ini penting, agar masyarakat tetap eksis meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya akibat perubahan-perubahan yang terjadi, serta diharapkan dapat menimbulkan ketentraman dan kenyamanan dalam kehidupan manusia baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, tutur Abuddin Nata, mantan Wakil Rektor Bidang Sarana dan Prasarana UIN Jakarta dalam situs resmi www.uinjkt.ac.id, integrasi ilmu umum dan agama merupakan keniscayaan dalam dunia akademik pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya dalam menyelesaikan persoalan.

Tantangan ke depan, pola kerja keilmuan yang integralistik dengan basis moralitas keagamaan yang humanistik ini dituntut dapat memasuki wilayah-wilayah yang lebih luas seperti psikologi, sosiologi, antropologi, social work, lingkungan, kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, hubungan internasional, hukum, peradilan, dan sebagainya.

Diakui memang, konversi IAIN menjadi UIN bukanlah satu-satunnya solusi dari berbagai problem yang dihadapi oleh perguruan tinggi islam. Sekadar ganti baju saja tidak cukup. Mengaca dari apa yang telah dibangun oleh UIN Maliki melalui strategi arkanul jami’ahnya, maka segala aspek harus benar-benar diperhatikan dengan betul, mulai dari konsep keilmuan dan perangkat metodologinya, manajemen perencanaan (grand design), tenaga pengajar, fasilitas atau sarana-prasarana, serta input maupun output-nya.

Menilik kampus Walisongo, kini berubahnya status IAIN menjadi UIN dengan paradigma unity of science dan metafora diamond, patut mendapatkan sambutan dan apresiasi yang tinggi dari berbagai elemen yang ada. Karena selain mengembangkan integrasi melalui strategi theoantroposentris, humanisasi ilmu-ilmu keislaman, dan spiritualisasi ilmu-ilmu modern, para tim Kelompok Kerja (Pokja) UIN Walisongo juga telah berhasil merumuskan isu-isu sains dan agama dalam konteks pengalaman Indonesia, yaitu menambahkan poin strategi revitalisasi local wisdom. Revitalisasi kearifan lokal ini, kata Muhibbin, Rektor UIN Walisongo dikutip dari tulisan artikelnya di laman www.walisongo.ac.id, merupakan upaya untuk menggali, mengembangkan, dan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal.

Pada akhirnya, Amin menegaskan, upaya untuk mengintegrasikan dua keilmuan agama dan sains sesungguhnya butuh waktu yang tidak sebentar, ia merupakan long life project atau long life education. Pada prinsipnya, implementasi integrasi bukanlah hanya kerja kepemimpinan. Akan tetapi, hal itu adalah kerja budaya atau kerja sejarah. “Karena kita saat ini memang berupaya membangun budaya dan sejarah,” pungkas Amin, yang pernah menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga selama dua periode berturut-turut (2002-2010).

[1] Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>