Pembentuk Karakter Anak Melalui Pendidikan Prenatal

Oleh: Asih Sugiarti*

Pendidikan merupakan proses yang dilakukan setiap individu menuju ke arah yang lebih baik. Begitu juga, pendidikan merupakan “amunisi kehidupan”, yang dapat membentuk diri seseorang menjadi makhluk yang beretika, bermoral, berakhlak, dan berkarakter. Hingga pada akhirnya, pendidikan mempunyai peran besar dalam membangun moralitas bangsa dan negara.

Bermula pada hal di atas, pendidikan sebagai proses pembentukan karakter tentunya harus dimulai dari proses informal. Mengingat seluruh proses pendidikan karakter bermula pada pembentukan moral manusia yang hanya mungkin dilalui melalui jalur informal yaitu antara individu dan lingkungan hidupnya. Pada gilirannya lembaga pertama dan yang paling utama untuk membentuk karakter”mutlak” dipegang oleh pihak keluarga dalam hal ini orang tua.

Disisi lain, semua orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang berkarakter. Namun, untuk membentuk anak yang berkarakter baik di zaman sekarang masih sulit untuk direalisasikan. Maka dari itu, langkah awal untuk membentuk anak yang berkarakter perlu dimulai sejak dini, yaitu saat anak itu sendiri masih dalam kandungan ibunya. Dan disinilah waktunya pendidikan prenatal yang berperan dalam membentuk karakter anak perlu perlu direvitalisasi kembali di masyarakat kita saat ini.

Peran Orang Tua

Mengacu pada penelitian yang dilakukan seorang ahli prenatal, seperti F.Rene Van de Carr, Marc Lehrer, dan para ilmuwan dalam bidang perkembangan pra-lahir, bahwa bayi yang diberi stimulasi pra-lahir akan lebih cepat mahir berbicara, menirukan suara, tersenyum secara spontan, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik disaat ia dewasa nanti. Penelitian tersebut setidaknya ada relevansinya bahwa sesungguhnya bayi memerlukan rangsangan dari luar.

Maka dalam konteks pendidikan anak, peran orang tua sangat menentukan. Orang tua berperan secara total bagi si anak, baik lahir maupun batin. Oleh karenanya, orang tua sebagai pihak yang bertanggung jawab harus selalu menghiasi “kertas putih” dengan menanamkan sifat-sifat yang mulia dan akhlak terpuji pada diri anak tersebut.

Tetapi, realitas sekarang, fungsi keluarga yang dinahkodai orang tua semakin “tereduksi”. Lihat saja peran orang tua sejak prenatal masih saja sering dikesampingkan, padahal kewajiban orang tua itu harus memberikan asupan pendidikan kepada anaknya meskipun masih dalam kandungan.

Jika seandainya sikap-sikap orang tua mengesampingkan anak di saat masih dalam kandungan, hal ini tentu dikhawatirkan akan menjadi bibit awal membentuk anak pascalahir hingga dewasa nanti menjadi anak yang tidak punya akhlak dan karakter yang baik. Karena orang tua belum efektif dalam merawat anak ketika masih dalam kandungan.

Oleh karena itu, pendidikan prenatal yang mempunyai pengaruh besar terhadap proses dan hasil pendidikan, baik untuk diri si anak, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara mestinya harus semakin diperhatikan masyarakat kita, terlebih khusus oleh sang ibu.

Peran Pemerintah

Meskipun prenatal mutlak menjadi tanggung jawab orang tua yang bersangkutan, tetapi pihak pemerintah juga wajib memberikan sosialisasi atau penyuluhan tentang pentingnya pendidikan prenatal. Sekaligus memberikan strategi pelaksanaan pendidikan prenatal kepada warga negaranya. Apalagi saat ini negeri ini masih terus menggerakkan pendidikan karakter. Sebab pendidikan prenatal menjadi awal untuk membentuk kepribadian anak, yang diharapkan bisa membentuk karakter bangsa dan kelak saat dewasa nanti mereka menjadi pemimpin yang berakhlak dan berkarakter.

*Ketua HMJ Biologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>